Kupas Tuntas tragedi Sejarah kelam 30 September dan 1 Oktober 1965 Oleh Ketum LSM SITI JENAR

  • Whatsapp

Situbondo, Primanews.net – Setiap Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Di tahun 1965. yang lalu, pecah Gerakan 30 September (G30S) yang menewaskan beberapa perwira Angkatan Darat-mereka lantas ditetapkan sebagai pahlawan revolusi.

Fakta Sejarah kelam bangsa kita ini di paparkan utuh berikut pertnayaan publik yang dia wakilkan hal ini gamblang di bedah oleh Ketua Umum LSM SITI JENAR , Eko Febrianto kepada Awak media saat di jumpai di salah satu Tempat tongkrongan di pusat kota Situbondo hari ini Selasa 29 September 2020.

Read More

Menurut Ketua Umum LSM SITI JENAR Eko Febrianto, Peringatan Hari Kesaktian Pancasila bermula dari Surat Keputusan Menteri atau Panglima Angkatan Darat Jenderal Soeharto pada 17 September 1966 lalu. Setelah keputusan tersebut keluar, Wakil Panglima Angkatan Darat Letjen Maraden Panggabean dalam jumpa pers menjelaskan, Pancasila sebagai way of life bangsa Indonesia pada tanggal itu mendapat ancaman yang luar biasa sehingga hampir saja Pancasila musnah dari Bumi Pertiwi.

Yang mana malam hari nya tanggal 30 September 1965 bangsa kita dihebohkan oleh kejadian yang mencengangkan 9 PATI TNI AD di bantai secara sadis oleh gerombolan orang orang simpatisan PKI kala itu.

Apa yang terjadi setelahnya sudah kita ketahui bersama: pembantaian massal terhadap orang-orang yang dituding PKI atau komunis.

Bahkan Ketua LSM SITI JENAR ini juga mengutip da menunjukkan buku Menguak Misteri Sejarah (2010) karya Asvi Warman Adam, penetapan Hari Kesaktian Pancasila dilakukan lewat Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat tertanggal 17 September 1966. Itu harus diperingati oleh Angkatan Darat.

Menteri/Panglima AD yang juga Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) saat itu adalah Soeharto. Inilah orang yang nantinya mengambil-alih kekuasaan tertinggi dari Sukarno, menjadi Presiden RI ke-2 sekaligus mengakhiri riwayat Orde Lama dan menggantinya dengan rezim Orde Baru.

Pada 24 September 1966, seperti yang tertulis dalam Dokumen Terpilih Sekitar G30S/PKI (1997), Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian mengusulkan supaya peringatan Hari Kesaktian Pancasila juga dilakukan oleh seluruh jajaran Angkatan Bersenjata.

Yang mana Soeharto, yang juga kala itu menjabat Menteri Utama Bidang Pertahanan dan Keamanan, lantas mengeluarkan surat keputusan tertanggal 29 September 1966 yang menetapkan bahwa Hari Kesaktian Pancasila diperingati oleh “seluruh slagorde (jajaran) Angkatan Bersenjata dengan mengikutsertakan massa rakyat.” Ujar Eko.

Eko juga lebih jauh mengupas tentang ini seperti dia juga mengatakan Tidak ada yang salah dengan peringatan belasungkawa atas gugurnya para perwira AD dalam tragedi 1965 itu bahkan itu wajib untuk kita lakukan untuk sebagai generasi penerus untuk mengenang jasa para pahlawan terdahulu nya .

Akan tetapi, ada persolalan lain tentang tragedi 65 ini kata Eko, persoalan yang lebih penting dan lebih patut diperingati adalah: kematian lebih dari 500 ribu jiwa warga Indonesia setelahnya.

Bayangkan Sepanjang 1965-1966, juga tahun-tahun setelahnya, terjadi pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang yang dianggap PKI atau antek-anteknya, bahkan kepada mereka yang dituding terkait dengan komunis, kendati tanpa bukti yang kuat dan tanpa proses pengadilan.

Keseluruhan jumlah korban pembantaian itu masih menjadi misteri hingga kini. Eko mengukutip juga dari The Indonesian Killings of 1965-1966 (1990) karya Robert Cribb, Angkatan Bersenjata RI memperkirakan jumlah yang dibantai mencapai sekitar satu juta orang.

 

Sedangkan menurut orang-orang komunis yang selamat dari pembantaian dan mengalami trauma, kata Eko sembari juga mengutip tulisan Theodore Friend dalam Indonesian Destinies (2003), perkiraan awal jumlah korban pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh PKI dan komunis tidak kurang dari dua juta orang.

Setelah Orde Baru runtuh, investigasi untuk menguak tragedi pembantaian 1965-1966 tersebut mulai diupayakan, kendati tetap saja mengalami hambatan. Pada 23 Juli 2012, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan bahwa pembantaian orang-orang yang dituduh komunis itu merupakan pelanggaran HAM berat.

Pernyataan Komnas HAM tentang “Hasil Penyelidikan Pelanggaran HAM yang Berat Peristiwa 1965-1966″ terungkap, ke-9 pelanggaran itu meliputi:

Pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, pengusiran/pemindahan penduduk secara paksa, perampasan kemerdekaan atau kebebasan fisik lainnya secara sewenang-wenang, penyiksaan, pemerkosaan dan kejahatan seksual lainnya, penganiayaan, serta penghilangan orang secara paksa.

Barangkali benar bahwa Pancasila memang sakti kendati para pahlawan revolusi harus terlebih dulu menjadi korban. Namun, apakah ratusan ribu atau bahkan jutaan rakyat yang dibantai oleh sesama anak bangsa tidak pantas mendapat penghormatan yang juga sama layaknya? Nah itu yang menjadi pertanyaan yang tak terpecahkan saya dan mungkin jutaan masyarakat lain nya di republik ini ujar Eko dengan penuh tanya.

Nah pada tanggal 1 Oktober lusa ini menurut saya adalah hari bersejarah dimana enam Jendral dan satu Kapten berserta ribuan orang lainnya menjadi Korban atas tragedi yang tidak perlu terjadi di masa yang akan datang mungkin tragedi sejarah kelam ini bisa kita jadikan sebuah pembelajaran kepada anak cucu kita kelak.

Untuk mengenang jasa Para Pahlawan dan Ribuan orang tidak berdosa yang meninggal itu mari kita peringati pada 1 Oktober 2020 mendatang. Pungkas Eko. (EKO FEBRIANTO)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *