Terharu, Nasib yang dialami Fitriyatul Hasanah, 6 Bulan Lumpuh Setelah Melahirkan

  • Whatsapp

Situbondo, Primanews.net ~ Terasa sangat miris nasib yang dialami oleh Fitriyatul Hasanah (29) seorang ibu muda asal dusun contong RT 01/RW 12 desa pokaan kecamatan Kapongan kabupaten Situbondo.

Beban derita itu, mulai berat ia rasakan ketika pasca melahirkan lewat operasi Caesar di rumah sakit. Namun karena suatu hal dan keadaan sehingga membuat dirinya terpaksa melakukan perawatan mandiri dirumah disebabkan pada faktor keterbatasan biaya.

Read More

Dalam kondisi lemah dan hanya bisa terbaring tanpa daya di peraduan nya Ia mengungkapkan, “Awal saya masuk rumah sakit memakai umum karena saya tidak mempunyai KIS, Jampersal dan BPJS. Namun karena keterbatasan biaya, saya dibawa pulang dengan catatan rawat jalan”. Ujar nya.

Cerita malang pun tak dapat terhindarkan, Setelah melahirkan dengan melaksanakan operasi tersebut ia dinyatakan lumpuh dan harus di rujuk ke rumah sakit yang ada di Surabaya. Namun keluarga nya tidak mampu dan tak memiliki biaya yang cukup untuk membawa ke rumah sakit Surabaya. Ia harus pasrah pada kondisi penyakitnya karena masalah ekonomi.

Sementara Sumarsono (Suami) yang kesehariannya sebagai penarik becak menjelaskan, Sebelum nya ia berkeliling di area Situbondo untuk mencari penumpang dengan modal mengayuhkan pedal, ia berjibaku keringat memenuhi kebutuhan keluarga ditengah Pandemi dan sulit nya ekonomi. Namun semenjak kelumpuhan istri nya, pria ini mengaku sudah tidak lagi bekerja, hanya karena ingin merawat istri serta bayi nya yang baru dilahirkan.

Menurut pantauan awak media kami, hanya dia satu-satunya yang menjadi tulang punggung keluarga. Ketika ia menceritakan kesedihan nya saat mengalami banyak kesulitan semenjak datang nya musibah kelumpuhan istri nya. Dalam kesulitan kondisi keluarga nya, ia banyak berharap pengobatan serta kesembuhan. Namun untuk memiliki itu semua memerlukan biaya yang tidak sedikit harus dikeluarkan.

Abang becak di kabupaten Situbondo ini merasakan kondisi darurat, pelik dan cukup sulit, tak mempunyai biaya untuk mengobati istri ditambah lagi bayi yang masih memerlukan perawatan khusus.

Ia mengatakan, “Hanya dengan cara mengayuh becak saya bertahan hidup, lalu dengan cara apa dan bagaimana saya bisa mendapatkan biaya tersebut sedangkan untuk melakukan pekerjaan dan kegiatan sehari-hari, istri dan bayi masih sangat perlu perawatan dan perhatian saya” keluh nya.

(Agung Chornelis & Tim)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *