Tragedi Kekerasan Poltik dan Agama

  • Whatsapp

Situbondo, Primanews.net – Tindak Kekerasan berbasis agama memang mempunyai sejarah panjang dalam setiap agama. Benturan antar kelompok dalam sebuah agama maupun benturan antar pemeluk agama sudah sering terjadi dalam sejarah. Seolah terjadi konflik tidak ingin agama berperan dalam lumpur kotor kekerasan, setiap kali terjadi dan kekerasan bernuansa agama, para tokoh agama kemudian mengatakan bahwa konflik dan kekerasan tersebut tidak terkait dengan agama.

Untuk membersihkan agama mereka biasanya berujar, konflik dan kekerasan tersebut karena tendensi politik dan ekonomi. Fenomena inilah yang penulis sebut sebagai sekularisasi konflik dan kekerasan agama. Apa makna dari sekularisasi konflik dan kekerasan itu? Terminologi ini dapat digunakan untuk menjelaskan adanya upaya dari berbagai kalangan terutama tokoh-tokoh agama, untuk menarik aspek agama dari berbagai kalangan terutama tokoh-tokoh agama untuk menarik aspek agama dari berbagai konflik dan kekerasan. Dengan demikian, dimaksudkan untuk menghindarkan adanya tuduhan bahwa agama secara instrinsik didalam ajaran-ajaran normatifnya mengandung unsur-unsur kekerasan. Agama yang diyakini sebagai ajaran kemulyaan untuk membimbing manusia dalam berinteraksi dengan Tuhan, lingkungan, dan sesama manusia bahkan diri sendiri tidak mengajarkan kekerasan, apalagi membunuh orang lain.

Read More

Membedakan antara agama sebagai ajaran normatif dan umat beragama sebagai pemeluk sebuah komunitas. Agama senantiasa mengajarkan kebaikan dan ketentraman, namun umat beragama tidak selalu mengekspresikan sesuatu yang membawa kebaikan dan ketentraman. Karena itu, jika ada kekerasan yang disinyalir bermotif agama maka selalu muncul penolakan bahwa hal tersebut dilakukan karena agama, tetapi lebih karena persoalan politik atau ekonomi. Disnilah ada upaya untuk melindungi agama agar tetap bersih dari perbuatan-perbuatan yang dianggap mengotori agama.Dengan demikian, sekularisasi konflik dan kekerasan agama sejatinya lebih merupakan upaya untuk menyelamatkan agama agar tidak terlarut dalam proses sejarah yang tidak selalu sejalan dengan misi agama yang senantiasa membawa dampak ganda. Disatu sisi menjaga kesucian agama dan menjauhkannya dari aspek tertentu dalam sejarah yang bisa mengotori agama, namun disisi lain seakan-akan menjadikan agama tidak bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan oleh pemeluknya. Jika pemeluk agama melakukan kebaikan maka seringkali diklaim sebagai bagian dari agama, sebaliknya jika melakukan keburukan dan kejelekan maka mereka tidak ada hubungannya dengan agama.

Sekularisasi konflik dan kekerasan agama juga dilakukan dalam untuk memaknai proses sejarah yang melibatkan tentara Islam. Dikalangan oreintalis misalnya berkembang tuduhan bahwa Islam disebarkan dengan pedang dan darah, karena mereka membaca fakta sejarah perluasan wilayah kekuasaan Islam pada masa-masa awal kekuasaan khulafa al-Rasyidun (11-40. H/632-661. M) dan juga pada masa kekuasaan bani Umayyah (41-132. H atau 661-750. M) ke berbagai penjuru diluar semanjung Arabia. Penaklukan itu dilakukan tentara Islam melalui proses peperangan yang tentu saja memakan banyak korban jiwa. Dalam sejarah, penaklukan wilayah-wilayah itu dipandang sebagai bagian dari penyebaran Islam dengan cara melalui peperangan. Tuduhan demikian, tentu tidak bisa diterima dari kalangan muslim yang biasanya berargumentasi bahwa Islam adalah agama damai yang tidak disebarkan dengan pedang dan darah.

Kekerasan internal agama bukanlah persoalan sederhana. Ada kekerasan agama yang dibungkus oleh isu agama dan kekuasaan politik sekaligus. Kasus mihnah, pada masa kekuasaan Bani Abbasiyah ketika dipimpin oleh al-Makmun yang memerintah tahun 818-833 M, yang memaksakan doktrin muktazilah tentang kebaharuan al-Quran merupakan contoh yang sangat baik. salah satu korban tindak kekerasan mihnah adalah Imam Ahmad bin Hanbal (w. 855 M) yang tidak mau mengikuti doktrin muktazilah tersebut, terutama tentang doktrin bahwa al-Quran itu hadits (baru). Akibatnya, Imam Ahmad bin Hanbal ditangkap dan dimasukkan ke penjara dengan hukuman cambuk dan di siksa.Dua murid Ibnu Taimiyah (w. 728 H/1328 M) dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah (751 H/1350 M), di siksa dan di penjara karena kekukuhannya untuk berpegang pada pendapat yang dianggap benar.Ibnu Taimiyah dibuang ke Mesir dan Suriah karena tulisan fatwanya sangat menyinggung penguasa, maka akhirnya beliau wafat di penjara. Kekerasan agama juga terjadi pada al-Hallaj (w. 922 M/309 H) dengan hukuman mati di Baghdad serta Sitti Jenar (w. 1426 M) juga di esksekusi mati di Jawa oleh sultan Demak atas izin para walisongo karena dianggap pemahaman Islam yang menyimpang.

Penjelasan diatas, tidak dimaksudkan untuk menjelaskan detail sejarah tetapi hanya sebagai penanda bahwa konflik seagama maupun antar agama mempunyai akar sejarah panjang. Persoalannya bagaimana kita memaknai hal tersebut?. Dalam kaitan inilah penulis ingin menggaris bawahi beberapa hal. Pertama, pergumulan historis antara agama, baik sebagai ajaran maupun sebagai praktik historis merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.

Problemnya adalah bagaimana kita membaca dan memberi makna atas konflik tersebut. Kedua, dalam kaitan dengan pemberian itu, menurut penulis melakukan sekularisasi konflik dan kekerasan agama tidak terlalu banyak berguna meskipun sepintas lebih menentramkan umat beragama terutama umat yang agamanya dituduh terlibat konflik dan kekerasan, jika komunitas agama masih terus memproduksi konflik dan kekerasan.Ketiga, ajaran agama dan prilaku umatnya tidak bisa dibaca secara hitam-putih. Penulis berpendapat, dalam setiap konflik dan kekerasan agama motivasi aktornya dalam setiap level tidak selalu sama. Karena itu, ini merupakan pelajaran bagi kita sebagai bangsa yang cinta damai dan menghindari isu-isu agama karena hubungan kondisi politik kekuasaan sedang berjalan.

Penulis sebagai Dosen UNEJ dan Wakil Sekretaris AHSAN Jember.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *